Pulau Mursala

Pulau Mursala

Inilah Pulau Mursala atau sering juga disebut sebagai Mansalaar Island. Pulau dengan luas 8000 ha tersebut dihuni oleh puluhan kepala keluarga. Selain menikmati panorama alam, kehidupan penduduk setempat juga menarik untuk diselami. Pesona Pulau Mursala pernah diangkat ke film layar lebar “King Kong” tahun 1933 dan film nasional berjudul “Mursala” pada 2013.

Keunikan air terjun di sini adalah air dari ketinggian 35 m itu langsung jatuh dari tebing pulau ke permukaan laut. Air terjun di Pulau Mursala memang berada pada bagian pulau yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Air mengalir dari sungai hanya sepanjang 700 meter (terpendek di Indonesia) kemudian mengaliri batuan granit kemerahan di tebing pulau. Berikutnya, air tercurah jatuh dalam volume yang besar ke permukaan laut dengan bunyi keras, apalagi saat musim penghujan.

Secara administratif, Pulau Mursala bernaung di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, tepatnya di sebelah Barat Daya Kota Sibolga. Jika menelaah keberadaannya di dalam peta, Pulau Mursala terletak di antara Kota Sibolga dan Pulau Nias.

Nama “Mursala” tidak lahir begitu saja, ada serangkaian cerita yang bergulir di belakangnya. Pada abad VII, banyak bangsa Arab datang ke Pantai Barus untuk singgah dan melakukan pertukaran komoditi. Sebelum memasuki Barus, mereka kerap melakukan ibadah di ujung sebuah pulau besar. Kebiasaan ini berlangsung lama, sehingga nelayan setempat menamai pulau tersebut dengan rangkaian dari kata Mur dan shalat, yaitu “Mursala”. Mur merupakan sebutan lain untuk orang Arab.

Sekeliling pulau ini dihiasi oleh belasan pulau kecil yang mayoritas tak berpenduduk, diantaranya adalah: Pulau Pulau Puti, Pulau Silabu Na Godang, Pulau Kalimantung, Pulau Silabu Na Menek, dan Pulau Jambe. Hadirnya pulau-pulau kecil itu mendukung Pulau Mursala menjadi destinasi yang apik. Selain kaya ikan hias dan terumbu karang, Anda juga dapat mengunjungi laguna yang menyatu antara Pulau Silabu Na Godang dan Pulau Kalimantung.

Disamping itu, Pulau Silabu Na Menek juga akan menyita perhatian lewat tanaman bonsai yang tumbuh di atas bebatuan curam. Begitu banyak yang bisa dinikmati di Pulau Mursala, namun primadona yang harus Anda jumpai adalah Air Terjun Mursala tentunya.

 

Aktivitas

Kuliner

Di Sibolga, Anda akan dimanjakan dengan makanan berbahan dasar ikan, udang dan kepiting dari hasil laut Sibolga. Mampirlah ke Pantai Pandan, ada beberapa rumah makan yang kerap didatangi oleh berbagai kalangan, mulai dari pengusaha, wisatawan hingga pekerja kantoran. RM Sibolga Barus misalnya, di rumah makan ini, Anda akan disuguhi aneka ikan bakar yang lezat dan bebas dari bau amis.

 

Kegiatan

Di sekitar Pulau Mursala terdapat beberapa titik yang cocok untuk kegiatan menyelam dan snorkeling, salah satunya adalah Teluk Labuah Hunik. Jika ingin berenang dengan pemandangan bawah laut yang menarik, raihlah daerah sekitar Pulau Jambe yang memiliki perairan dangkal dan ikan laut yang cantik.

Bagi yang gemar memancing, di sinilah surganya. Para petualang pun bisa membawa peralatan kemah dan membangun tenda di pesisir pulau ini. Rasakan tenangnya bermalam di pinggir pantai sambil ditemani suara desiran ombak.

Di pulau ini ada beberapa tempat menarik untuk disambangi, seperti Batu Garuda, berupa batu yang menjorok berbentuk burung di ketinggian 70 m di pantai curam Pulau Silabu Na Menek, gugusan komposisi batu curam di sekitar Pulau Silabu-labu Na Godang, dan Bonsai Pinang Merah alam di atas bebatuan curam sekitar Pulau Silabu Na Menek. Ada pula laguna dengan hamparan pantai pasir putih yang menyatu antara Pulau Silabulabu Na Godang dengan Pulau Kalimantung Na Menek, serta hamparan pantai pasir putih di Pulau Puti yang berdekatan dengan Pulau Mursala.

Pulau Nias

Pulau Nias

Pulau Nias terletak di Samudera Hindia sebelah Barat Pulau Sumatera. Pulau indah dan mengagumkan ini dikelilingi sekira 27 pulau-pulau kecil dimana baru 11 pulau di antaranya yang sudah berpenghuni termasuk Pulau Nias, Pulau Simeuleu, Pulau Mentawai dan Pulau Enggano. Lokasi persis Pulau Nias berada sekira 125 km dari pantai barat Sumatera.

Memiliki luas sekira 5.000 km², Pulau Nias merupakan yang terbesar di antara pulau-pulau di sekitarnya. Gunungsitoli  adalah ibu kota Nias dimana di sini tersedia fasilitas bagi Anda yang ingin menjelajahi kemegahan alam dan budaya Nias. Di kota ini pula ada Museum Pusaka Nias yang menyimpan sekira 6500 koleksi benda budaya peninggalan Masyarakat Nias.

Pulau sepanjang 130 km dengan lebar 45 km ini seolah terasing keberadaannya. Hanya sedikit kapal dagang berlabuh di pulau ini karena memang dilarang. Pihak berwenang akan segera memerintahkan kapal dagang yang mendekat untuk membelok ke pelabuhan di Padang atau ke Pelabuhan di Bengkulu. Oleh karena itu, berkunjung ke Nias serasa menelusuri kehidupan masa lalu, di sana waktu seakan berhenti dengan budaya dan tradisi masih bertahan lestari.

Penduduk Pulau Nias tersebar di sekira 650 desa tetapi banyak dari desa-desa tersebut termasuk sulit dapat dijangkau melalui darat karena medannya yang berat. Upaya pembangunan infrastruktur di kawasan ini harus berhadapan dengan bentuk permukaan tanah yang labil. Jalanan yang baru dibangun biasanya hanya akan berumur pendek karena tanah selalu melesak ke bawah.

Pulau Nias dihuni masyarakat yang hidup mandiri sejak berabad-abad yang lalu. Kebudayaan mereka yang masih terjaga keasliannya dari pengaruh luar telah memikat wisatawan manapun yang menyambanginya. Dalam bahasa setempat, orang Nias menamakan diri mereka sebagai “Ono Niha”,  kata ono artinya anak atau keturunan, sementara kata niha memiliki arti manusia. Pulau Nias kadang disebut juga sebagai Tanö Niha , dimana kata tanö bermakna tanah.

Nias terkenal di dunia dengan budaya batu dan selancarnya. Salah satu yang tersohor dari atraksi budaya batu ini adalah lompat batu, yaitu pemuda lokal setempat melompati sebuah dinding batu setinggi 2 meter. Sebagai lokasi selancar dunia, Pulau Nias sebanding dengan Hawaii dengan kepemilikan ombak besar yang memikat penghobinya. Pulau Nias juga sempat menjadi tuan rumah Indonesian Open Surfing Championship yang berlokasi di Pantai Lagundri.

Nias merupakan tanah kuno. Tidak ada yang tahu persis sudah berapa lama masyarakat aslinya hidup di sini. Menurut legenda setempat, kehidupan di Pulau Nias berasal dari Sungai Gomo dimana menjadi mula keturunan 6 dewa dan peradaban manusia. Oleh karena itu, masyarkat Nias menyebut diri mereka ono niha atau ‘anak masyarakat’. Persebaran masyarakat dimulai dari Nias Tengah kemudian berpindah ke Utara dan Selatan dengan mengembangkan bahasa, adat istiadat dan seninya masing-masing. Diperkirakan manusia di Pulau Nias saudah ada sejak 30.000 tahun lampau.

Secara tradisional, desa-desa di Pulau Nias dipimpin kepala desa yang memimpin dewan sesepuh. Di Nias masih banyak terdapat desa-desa adat dimana yang menonjol dari desa-desa adat itu adalah penataan arsitekurnya, baik lanskap maupun bangunannya. Dulunya setiap desa di pimpin oleh seorang raja. Masyarakat Nias menganut sistem hierarki dengan kasta tertinggi yang ditempati bangsawan, diikuti masyarakat biasa. Suku Nias menerapkan sistem marga mengikuti garis ayah (patrilineal). Marga-marga umumnya berasal dari kampung-kampung pemukiman yang ada. Suku Nias mengenal sistem kasta (12 tingkatan Kasta) dimana tingkatan kasta tertinggi adalah balugu. Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi dalam pesta selama berhari-hari.

Masyarakat Nias memiliki karakter keras dan kuat yang diwarisi dari budaya pejuang perang. Oleh karena itu, masyarakat dan budaya Nias sampai saat ini mampu bertahan dari serbuan budaya asing. Budaya pejuang Nias telah berlangsung selama berabad-abad ketika desa-desa di sini mendeklarasikan perang satu sama lain. Dahulu peperangan antardesa atau antar suku berlangsung karena terprovokasi oleh rasa dendam atau masalah perbudakan.

Selain lekat dengan budaya pejuang, masyarakat Nias juga sekaligus masyarakat petani. Mereka menanam ubi, jagung dan talas untuk memenui kebutuhan hidupnya. Hewan babi selain menjadi hewan ternak juga menunjukan status seseorang karena semakin banyak seseorang memiliki babi maka semakin tinggi pula kedudukannya dalam masyarakat desa.

Pulau Nias bukan tanpa catatan sejarah karena sesungguhnya pulau mengagumkan ini pernah masuk catatan pedagang China, Portugis dan Arab. Dahulu Pulau Nias dikenal sebagai asal diperolehnya para budak yang kemudian diperjualbelikan oleh Kerajaan Aceh, pedagang Portugis, dan pedagang Belanda. Bahkan, hingga abad ke-19 Nias masih dikenal dunia luar sebagai lokasi perdagangan budak.

Pemerintah Hindia Belanda menguasai Pulai Nias tahun 1825. Meskipun sebenarnya sebelum itu pulau ini telah berhubungan dengan dunia luar tetapi kebudayaan tradisional tetap utuh secara menakjubkan.

 

Aktivitas

Kuliner

Kebanyakan akomodasi di Pulau Nias terbilang sederhana. Biasanya itu berupa tempat tinggal penduduk atau losmen. Di Gunungsitoli  ada banyak restoran kecil di sepanjang jalan raya-nya.

Ada beberapa jenis kuliner khas di pulau ini dimana Anda yang Muslim perlu bertanya dahulu bahan asal pengolahannya. Beberapa jenis makanan tersebut, yaitu: harinake (berupa daging babi cincang), ni’owuru (daging babi yang diasinkan agar bisa bertahan lama), gowi hihandro (Gowi Nitutu ; Ubi tumbuk), godo-godo (ubi yang diparut dan dibentuk bulat-bulat kemudian direbus lalu di taburi kelapa parut), köfö-köfö (daging ikan yang dihancurkan lalu dibentuk bulat kemudian dijemur, dikeringkan, dan diasap), tamböyö (ketupat), loma (beras ketan yang dimasak dengan tempatnya bambu), gae ni bogo kazimone (makanan dari sagu), dan raki gae (pisang goreng).

Coba pula cicipi boboto, yaitu masakan dari fillet ikan kakap atau ikan kerapu yang dagingnya dilayukan atau dibusukkan selama dua malam, ditaburi kelapa parut dengan bumbu khusus, lalu dibungkus dan dikukus dalam daun singkong.

 

Kegiatan

Kebudayaan masyarakat Nias yang nampak misterius justru akan menarik untuk Anda kenali. Beragam jejak budaya megalitikum kuno dan arsitektur tradisional di pulau ini telah memikat banyak peneliti budaya sekaligus menjadi daya tarik pariwisata.

Persiapkan diri Anda untuk terkesima saat berkunjung ke Bawomatauo dengan melihat pertunjukan lompat batu. Atraksi ini telah menjadi ciri khas kebudayaan masyarakat Pulau Nias. Beranikah diri Anda untuk mencoba sendiri melompati batu dengan setinggi 2 meter. Menakjubkan bukan! Lompat batu sendiri awalnya adalah latihan perang kuno bagi para pemuda lokal di Pulau Nias.

Di Desa Bawatomataluo dan Desa Hilisimae ada juga pertunjukan tari perang tradisional dimana para penarinya mengenakan kostum tradisional dengan bulu burung berwarna cerah yang diikatkan di kepala mereka. Kedua desa ini dapat dikatakan sebagai desa adat yang paling fenomenal di Nias selatan.

Cobalah berjalan-jalan di desa-desa sekitar Pulau Nias untuk melihat rumah dengan arsitektur unik yang telah dibangun sejak berabad-abad. Rumah ini tahan gempa dan dibangun dengan pilar-pilar yang bertumpu pada bongkahan-bongkahan batu. Pilar-pilar itu dibangun dengan tumpukan-tumpukan batu yang miring sehingga menciptakan struktur 3 dimensi yang kuat. Ada yang mengatakan bahwa desain rumah seperti kapal kayu ini terinspirasi oleh kapal-kapal Belanda yang membawa rempah-rempah. Melihat ukiran kayu yang rumit dari rumah penduduk akan membuat Anda merasa takjub. Kunjungi Desa Hilisimaetano di Selatan Nias dimana memiliki lebih dari 100 rumah tradisional dengan ukiran khas Nias.

Ada alasan mengapa para peselancar mancanegara menyebut Nias sebagai  ‘surga selancar di Bumi’. Hal itu karena ombak di tempat ini begitu spektakuler dibonusi pantai berpasir indah berwarna merah keputihan. Peselancar yang sudah berpengalaman akan berkerumun untuk bertarung memecah ombak besar di Pantai Lagundri. Di sini pemandangan pantainya juga begitu menakjubkan. Matahari terbenam pelan-pelan seolah jatuh ke dalam laut dengan warna merah kekuningan yang memukau.

Pilihan lain di Pulau Bawa dan Pulau Aru yang dapat diakses melalui 2 jam perjalanan dengan menggunakan kapal feri atau menyewa perahu dari Nias maka Anda dapat berselancar sepusanya di pulau ini.

Mengapa tidak Anda mencoba merasakan seperti seorang arkeolog untuk menyelidiki tempat-tempat dari zaman prasejarah atau zaman batu. Mengamati detail kecil tentang prasejarah Nias karena Nias dianggap sebagai rumahnya kebudayaan magalitikum tertua di Indonesia. Di sini ada banyak rumah adat dengan ukiran batu tua. Beberapa dari rumah adat ini bahkan telah berusia 3.000 tahun.

Di dataran tinggi sekitar Gomo berdiam contoh ukiran batu terbaik. Daerah ini meski sulit diakses karena harus melewati hutan atau menumpang kendaraan setempat namun akan terbayar dengan pengalaman petualangan yang mengesankan dan menjadi kenangan yang tak terlupakan. Ada 14 titik situs batu megalit di sini dan 4 situs di antaranya telah dipugar pemerintah. Arca-arca batu berusia ratusan tahun tersebut bisa dijumpai di halaman-halaman rumah penduduk.

Di Gunungsitoli ada Museum Pusaka Nias yang menyimpan sekira 6500 koleksi benda budaya peninggalan Masyarakat Nias. Pastor Johannes M. Hammerle, seorang warga asal Jerman sudah menetap di sini selama 36 tahun bertindak selaku direktur museum. Ia telah berjasa mengumpulkan benda koleksi budaya Nias dari desa-desa di pedalaman. Di museum ini dapat Anda lihat beragam artefak alat rumah tangga, patung-patung megalit dari kayu dan batu, perhiasan, senjata tradisonal, mata uang, pakaian perang, simbol-simbol kebangsawanan, serta rumah adat asli Nias atau disebut omo hada.

Istana Maimun

Istana Maimun

Setiap kota biasanya memiliki ikon yang menjadi penanda sekaligus kebanggaan masyarakatnya. Nah, di Medan Istana Maimun atau yang juga dikenal Istana Maimun adalah ikon sekaligus kebanggaan kota dan warga Medan. Istana ini berlokasi di Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan.

Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan ini merupakan tujuan utama wisatawan yang berkunjung ke Kota Medan, Sumatera Utara. Arsitektur bangunannya didominasi warna kuning yang merupakan warna khas Melayu.

Istana Maimun merupakan peninggalan Kerajaan Deli. Didirikan oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang merupakan keturunan raja ke-9 Kesultanan Deli. Istana ini dibangun pada 26 Agustus 1888 dan baru diresmikan pada 18 Mei 1891.

Bangunan Istana Maimun menghadap ke timur dimana terdiri dari dua lantai dengan tiga bagian yaitu bangunan induk, sayap kiri dan sayap kanan. Di bagian depan sekitar 100 meter berdiri Masjid Al-Maksum yang dikenal sebagai Masjid Raya Medan.

Istana Maimun merupakan salah satu dari sekian istana yang paling indah di Indonesia. Istana ini memiliki arsitektur yang unik dengan perpaduan beberapa unsur kebudayaan Melayu bergaya Islam, Spanyol, India dan Itali. Perpaduan ini menyuguhkan keunikan inilah yang memberikan karakter khas bangunannya.

Pengaruh Eropa terlihat dari ornamen lampu, kursi, meja, lemari, jendela sampai pintu dorong. Pintu bergaya Spanyol menjadi bagian dari arsitektur istana ini. Anda dapat pula melihat pola arsitektur Belanda dari bentuk pintu dan jendelanya yang lebar dan tinggi. Ada pula prasasti marmer di depan tangga ditulis dengan huruf Latin dalam bahasa Belanda.

Pengaruh Islam terlihat dari bentuk lengkung (arcade) di bagian atap yang bentuknya menyerupai perahu terbalik (lengkung persia) yang biasanya dijumpai pada bangunan-bangunan di kawasan Timur Tenggah.

Di ruang tamu terdapat tahta yang didominasi warna kuning. Ruangan seluas 412 m persegi ini digunakan untuk acara penobatan Sultan Deli atau agenda tradisional lainnya. Ruang tersebut juga digunakan sebagai tempat  sultan menerima kunjungan sanak saudara dan keluarga di hari libur Islam.

Kemewahan interior dan bangunan fisik istana ini dimungkinkan karena sejak 2 abad silam wilayah Deli berada dibawah Kesultanan Deli yang mengelola hasil perkebunan, minyak, dan rempah-rempah yang melimpah. Hasil bumi yang luar biasa tersebut memberikan penghasilan sangat besar kepada Kesultanan Deli dengan bukti kehadiran Istana Maimun yang megah.

Bangunan bersejarah ini terbuka untuk umum setiap hari dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Tarif masuknya Rp3.000,- untuk anak-anak dan Rp5.000,- untuk dewasa.

 

Aktivitas

Kuliner

Kota Medan dipenuhi oleh PKL yang menawarkan berbagai macam masakan tradisional. Makanan khas Medan cenderung pedas. Meskipun warung PKL tidak terlihat mewah namun warung ini menyajikan makanan bercitarasa dengan harga yang terjangkau. Jalan Selat Panjang merupakan pusat makanan di malam hari yang ramai dikunjungi pembeli. Anda juga bisa pergi ke Jalan Jenderal Ahmad Yani dimana terdapat Tip Top Café yang memiliki arsitektur kolonial Belanda.

Langkahkan kaki Anda lebih jauh ke Jalan Merdeka yang merupakan tempat yang paling sering di kunjungi di Kota Medan. Jalan ini bertabur kafe dan restoran, sangat cocok untuk bersantai dan berkumpul bersama rekan sejawat.

Medan sangat terkenal dengan buah duriannya. Durian di sini memiliki bau dan rasa yang khas, harganya murah dan hampir dapat ditemui diseluruh sudut kota. Jika Anda adalah penggemar buah-buahan, sempatkan  diri Anda berkunjug ke Pasar Rame, pasar ini buka dari pagi sampai sore, terletak di samping Plaza Thamrin.

 

Berbelanja

Medan memiliki beberapa toko souvenir yang menggugah hasrat berbelanja Anda. Toko souvenir di Medan biasanya menjual kerajinan dan makanan khas Sumatera Utara. Di sepanjang jalan Ahmad Yani anda bisa menemukan beberapa toko souvenir seperti Toko Asli, Toko Rufino dan Toko Bali Art.

 

Kegiatan

Telusurilah keindahan dan kemegahan Istana Maimun dari balik dindingnya yang kokoh dan puluhan kamar yang tersebar di dua lantai. Menerawanglah pada kemegahan lampu kristal khas Eropa, kursi, meja maupun lemari hingga puluhan koleksi istananya. Di sini Anda disodori cerita kejayaan Kesultanan Deli masa lalu.

Pertama kali Anda memasuki halaman depannya maka suasana tenang langsung menyergap kepala. Angin sepoi bertiup sejuk dihalaman teras depan istana megah ini. Atapnya yang menjulang setinggi 5-8 meter membuat suhu ruangan didalamnya terasa sangat nyaman.

Selain diberi kesempatan untuk melihat langsung istana beserta isinya, Anda juga diberikan cerita sejarah singkat tentang Istana Maimun dan Kesultanan Deli oleh pemandu yang ada di istana.

Berlama-lama berada di dalam Istana Maimun sungguh tidak membosankan. Menikmati desain interior yang didominasi warna kuning, warna khas Melayu, dan perabotan peninggalan Kesultanan Deli yang unik dan langka.

Tangkahan

Tangkahan

Sering disebut sebagai surga tersembunyi Sumatera, hutan lebat dan topografi Tangkahan yang mengagumkan, membuat desa ini menjadi tempat wisata yang luar biasa.  Desa ini terletak di Taman Nasional Gunung Leuser yang lebat, di persimpangan dua sungai, yaitu sungai Batang Serangan dan Buluh. Taman ini adalah salah satu wilayah yang jumlah primatanya paling beragam di dunia, yang juga rumah bagi beberapa spesies bumi paling terancam punah.

Di masa lalu taman ini sering menjadi tempat pembalakan dan pemburuan liar, saat ini hutan ini telah diubah menjadi cagar alam. Orang-orang setempat telah sadar dengan fungsi dan kekayaan taman ini sehingga mereka berusaha untuk melestarikan harta mereka yang berharga ini. Datang dan temui gajah bersama-sama dengan penjaga mereka yang sedang berpatroli untuk menjaga hutan dari penebangan dan pemburuan liar.

Di sini, tentunya Anda akan melihat dan menikmati sungai yang jernih yang melintasi hutan Sumatera, menciptakan suasana yang benar-benar mistis. Datang dan temukan surga di hutan tersembunyi ini dan Anda tidak akan menyesal.

 

Aktivitas

Datang dan rasakan petualangan liar di hutan ini. Perjalanan melalui rute yang menantang seperti mendaki trek berlumpur  untuk sampai ke tempat satwa eksotis yang membuat taman ini rumahnya.

Anda juga bisa trekking dengan gajah di mana Anda dapat menjelajahi hutan di punggung gajah. Luar biasa bukan.

Berenang di sungai yang airnya jernih dan masih murni.

Rasakan suasana santai di dunia yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota.

Anda juga bisa mendapatkan pengalaman unik yaitu melihat gajah hutan mandi dan berkunjung ke kamp gajah, dapat ditempuh selama 15 – 20 menit dengan berjalan kaki dari Tangkahan.

Rasakan pijatan di tubuh Anda ketika berenang di bawah air terjun. Terdapat air terjun kecil di dekat sungai di dalam hutan ini. Atau, jika Anda punya energi, air terjun lain yang lebih besar berjarak sekitar satu jam ke arah Sungai Buluh dapat Anda coba, tetapi ketika jalur menghilang, Anda harus berjalan di sungai untuk menuju air terjun ini.

Medan

Medan

Medan, ibu kota Sumatera Utara, merupakan kota pusat ekonomi dan komersial terbesar di Sumatera. Kota ini terus bertumbuh menjadi pusat bisnis dan menjadi pintu gerbang ke Sumatera Utara, tempat dimana wisatawan datang untuk berpetualang di dataran tinggi Danau Toba atau memasuki liarnya hutan lebat Sumatera.

Dahulu, Medan merupakan rumah bagi para pedagang dan pelaut. Mereka bernaung di bawah kekuasaan Kerajaan Melayu Islam hingga akhirnya Kesultanan Aceh Darussalam berhasil menaklukkannya. Selama masa konflik, lokasi daratan digunakan sebagai medan perang antara dua kerajaan sehingga ada asumsi kata “medan” diterjemahkan secara harfiah dari kata lapangan atau medan.

Sejarah modern Medan telah dimulai pada 1860an ketika para pendagang menyadari potensi tanah vulkanik yang kaya untuk perkebunan. Tahun 1865 seorang pengusaha Belanda memperkenalkan tembakau di daerah tersebut sehingga mengantarkan Medan pada masa kemakmuranya. Alasan ini menyebabkan masuknya investasi asing dan aliran kapitalis Eropa. Tanaman tembakau, karet, kelapa sawit dan teh ditanam hapir di semua area di Medan. Dari sebuah desa kecil berikutnya Medan tumbuh menjadi sebuah kota kolonial yang makmur. Tahun 1886 Belanda menjadikan Medan sebagai ibu kota Sumatera Utara hingga membuat penduduk Medan membengkak menjadi sekitar 80.000. Kini populasi warga Medan beragam, hampir setiap etnis ada di sini, seperti Batak, Melayu, Jawa, Minang, Aceh, India dan Cina.

Sekarang menjadi kota terbesar ketiga di Indonesia. Pengaruh masa lalunya yang gemilang sebagai penghasil perkebunan meninggalkan jejak arsitektur Eropa di berbagai bangunan kota. Alhasil, saat ini Medan menjadi sebuah kota dengan perpaduan gaya hidup modern dan warisan kolonial.

 

Aktivitas

Kuliner

Makanan di Medan seperti kebanyakan makanan ada di Sumatera yaitu bercita rasa pedas. Akan tetapi, jika Anda tidak suka makanan pedas maka masih dapat menemukan makanan yang sesuai dengan selera. Dari warung harga murah disisi jalan hingga ke restoran Cina, Jepang dan Korea, tersedia di sini.

Di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Tip Top Café merupakan kafe yang cukup dikenal masyarakatnya. Kafe ini adalah sebuah tempat yang nyaman untuk bersantai dan menikati kue gaya Durth.

Medan dihiasi oleh PKL yang menawarkan berbagai macam masakan tradisional. Meskipun tempat ini tidak terlihat mewah namun menyajikan makanan lokal yang murah dan lezat. Temukan tempat makan populer lainnya di Jalan Selat Panjang yang ramai di malam hari dengan makanan yang siap memuaskan lidah.

Anda bisa pergi ke Jalan Merdeka berada tepat di jantung Kota Medan. Lokasinya pas di kawasan Lapangan Merdeka, tak jauh dari kantor Pemerintahan Kota Medan. Tempat ini merupakan tempat nongkrong paling diminati anak muda Medan dengan banyak pilihan kafe dan restoran

Durian yang populer di seluruh Indonesia adalah durian dari Medan. Buah berduri memiliki rasa dan bau yang sangat khas tersebut tersedia di berbagai sudut kota. Duduklah dengan penduduk setempat di sebuah warung di pinggir jalan dan menikmati beberapa durian menggugah selera. Jika rasanya terlalu kuat bagi Anda, Anda mungkin ingin mencoba kue durian sebagai gantinya.

Untuk camilan buah kering dengan taburan gula dapat Anda temukan di Pasar Rame yang buka dari pagi sampai sore. Temukan tempat ini di samping Plaza Thamrin.

 

Berbelanja

Medan ramai dengan pusat perbelanjaan dan mall. Jika Anda menyukai barang-barang antik maka arahkan langkah ke Jalan A. Yani yang menjual segala macam barang antik khas Batak, Aceh dan Minang.

Berbelanja pakaian? Cobalah pergi ke Monginsi di Plaza atau penduduk setempat menyebutnya dengan “Monza”, kependekan dari Monginsi di Plaza. Nama ini diinspirasikan dari nama kawasan Jalan Monginsidi di Kota Medan yang menjadi pusat penjualan barang second hand. Plaza ini ini merupakan pusat perbelanjaan segala bentuk baju, kaos, celana panjang, celana pendek, baju wanita, jaket, sepatu, tas dan aneka barang lainnya yang semuanya adalah barang second hand

Di Kampung Cina Medan di sekitar Jalan Sutomo Anda akan menemukan segala sesuatu muai dari perkakas berat sampai bak mandi. Pastikan Anda mengawasi tas Anda karena di sini banyak copet.

Medan terkenal dengan bika ambonnya. Kue ini adalah kue lezat yang terbuat dari tepung beras. Kunjungi Jalan Majapahit untuk membeli bika ambon dan sirup marquisa terbaik.

 

Kegiatan

Mengasyikkan melihat objek wisata Taman Buaya Asam Kumbang (Crocodile Farm) sekitar 10km dari jantung kota. Tempat ini memiliki hampir 2.000 buaya dari berbagai ukuran dan spesies. Anda dapat melihat reptil ini menikmati makanan mereka dangan mencabik sampai hancur menggunakan gigi yang tajam. Anda bisa mempelajari lebih lanjut tentang hewan tersebut di sini. Souvenir yang terbuat dari kulit buaya juga dijual di sini. Tempat pembiakan buaya ini buka pukul 9:00 hingga 17:00.

Menikmati budaya dan memperkaya diri mengenai tradisi Indonesia dengan berkunjung ke Museum Negara adalah hal yang jangan dilewatkan. Di sini Anda bisa menemukan koleksi menarik peninggalan arkeologi berupa patung-patung abad ke-12 hingga sisa-sisa makam tokoh Islam.

Masjid Agung Medan adalah pemandangan yang mengesankan lengkap dengan kubah Arabesque dan lampu kristal. Di Istana Sultan Maimun Anda dapat melihat foto dan memorabilia masa-masa kejayaan kerajaan ini. Desain bangunan mencerminkan pengaruh Melayu tersebut dicat kuning yang menjadi warna kerajaan Melayu.

Medan adalah tempat yang ideal untuk memulai petualangan Anda ke hutan Sumatera Utara yang liar. Hubungi tur operator di Medan untuk mengatur tur arung jeram atau trekking yang pasti akan membuat Anda terpesona keindahan alamnya.

Bukit Lawang

Bukit Lawang

Jelajahi hutan Sumatera dan rasakan petualangan outdoor ditemani orangutan selama Anda berada di desa di dalam hutan Bukit Lawang. Secara harfiah berarti “pintu ke bukit”, Bukit Lawang adalah sebuah desa kecil yang terletak di selatan Taman Nasionjal Gunung Leuseur. Terletak sekitar 90 kilometer barat laut Medan, ibu kota Sumatera Utara.

Bukit Lawang adalah pintu gerbang ke dalam hutan Sumatera yang legendaris yang memiliki medan licin dan lereng curam serta berlumpur, menjelajahi hutan di sini adalah petualangan yang menkjubkan. Perjalanan melalui hutan yang rimbun akan mendebarkan dan Anda akan masuk dalam dunia baru.

Hutan ini merupakan lebat yang menarik hati, orangutan merupakan daya tarik utama di sini. Bukit Lawang adalah salah satu tempat terbaik di dunia untuk menemukan primata langka dan hampir punah. Melihat makhluk anggun berayun-ayun melalui ranting-ranting pohon. Hutan ini adalah salah satu komunitas terbesar orangutan,  lebih dari 5000 orangutan tinggal di sini.

Pusat rehabilitasi orangutan adalah tempat bagi orangutan yatim piatu yang dilatih hidup di alam bebas. Pusat ini telah beroperasi sejak tahun 1973 dan hingga kini telah menarik pengunjung dari seluruh dunia  untuk melihat sekilas makhluk menakjubkan.

Jumlah orangutan di hutan ini telah menurun akibat perburuan liar, perdagangan satwa dan lingkungan yang rusak. Pusat rehabilitasi ini membantu orangutan kembali kebiasaan alami mereka dengan menempatkan mereka melalui pelatihan yang intensif sebelum dikeluarkan ke alam liar. Ketika primata ini kembali hutan, pusat rehabilitasi terus menyediakan suplemen makanan dan pemeriksaan rutin.

 

Aktivitas

Kuliner

Sebagian besar penginapan memiliki restoran, sehingga Anda bisa meminta pemilik penginapan untuk menyediakan makanan. Sepanjang sungai, ada beberapa kafe kecil. Anda bisa menikmati salad buah, nasi goreng dan makanan ringan. Pizza lokal juga tersedia di restoran Tony.

 

Berbelanja

Anda dapat membeli souvenir di toko dekat Sungai Bahorok.

 

Kegiatan

Treking di malam hari adalah favorit para pengunjung. Kebanyakan pengunjung memilih perjalanan dua hari untuk dapat memiliki kesempatan melihat orangutan dan satwa liar lainnya di habitat alami mereka. Petualangan ini berbahaya bagi wisatawan yang sendirian melakukan treking di hutan sehingga setiap perjalanan harus dibimbing oleh seorang pemandu yang berpengalaman. Pastikan Anda memberitahu pemandu jika ingin melihat tanaman atau hewan tertentu. Harga untuk perjalanan treking termasuk makanan dasar, biaya pemandu, izin dan peralatan berkemah. Pastikan Anda juga meminta pemandu Anda untuk mengunjungi gua kelelawar. Anda harus berangkat pagi-pagi agar Anda tidak melewatkan saat-saat yang mendebarkan dan langka di dalam hutan.

Jika Anda tidak ingin melakukan treking di malam hari, Anda dapat meminta pemandu untuk membawa Anda dalam perjalanan selama beberapa jam. Ada juga sejumlah perjalanan singkat sekitar Bukit Lawang yang tidak memerlukan pemandu atau izin.

Rasakan arus Sungai Bohorok dengan menggunakan perahu karet. Kegiatan ini harus dilakukan di bawah pengawasan pemadu berpengalaman karena arus di sini sangat kuat.

Berdekatan dan memberi makan orangutan merupakan pengalaman yang luar biasa. Waktu makan ada dua tahap yaitu jam 08:30 dan 15:00; Anda juga bisa memberi mereka makan susu, pisang dan makanan lainnya yang diberikan oleh pusat rehabilitasi. Semua kegiatan dalam Taman Nasional Gunung Leuser harus dilakukan dengan izin dan bimbingan staf pusat rehabilitasi.

Jika Anda menyukai tantangan, cobalah mendaki ke puncak Gunung Leuseur (3404 meter). Perjalanan ini memakan waktu sekitar 10-14 hari. Desa kecil Angasan adalah titik awal pendakian. Lima hari pertama akan dihabiskan treking melalui hutan hujan dimana primata langka seringkali dapat dilihat. Kondisi Anda harus sehat dan disertai oleh pemandu.

Danau Toba

Danau Toba

Danau Toba merupakan keajaiban alam menakjubkan di Pulau Sumatera. Sulit membayangkan ada tempat yang lebih indah untuk dikunjungi di Sumatera Utara selain danau ini. Suasana sejuk menyegarkan, hamparan air jernih membiru, dan pemandangan memesona pegunungan hijau adalah sebagian kecil saja dari imaji danau raksasa yang berada 900 meter di atas permukaan laut itu.

Danau Toba adalah danau berkawah seluas 1.145 kilometer persegi. Di tengahnya berdiam sebuah pulau dengan luas yang hampir sebanding dengan luas negara Singapura. Danau Toba sebenarnya lebih menyerupai lautan daripada danau mengingat ukurannya. Oleh karena itu, Danau Toba ditempatkan sebagai danau terluas di Asia Tenggara dan terbesar kedua di dunia sesudah Danau Victoria di Afrika. Danau Toba juga termasuk danau terdalam di dunia yaitu sekira 450 meter.

Danau Toba diperkirakan para ahli terbentuk setelah letusan gunung api super sekira 73.000-75.000 tahun lalu. Saat itu 2.800 km kubik bahan vulkanik dimuntahkan Gunung Toba yang meletus hingga debu vulkanik yang ditiup angin menyebar ke separuh wilayah Bumi. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 kilometer di atas permukaan laut.

Akibat letusan gunung api super  (Gunung Toba) diperkirakan telah menyebabkan kematian massal dan kepunahan beberapa spesies mahluk hidup. Letusan Gunung Toba telah menyebabkan terjadinya perubahan cuaca bumi dan mulainya masuk ke zaman es sehingga mempengaruhi peradaban dunia.

Bagi masyarakat sekitar Danau Toba memiliki sejarah magis yang dipercayai sebagai tempat tinggal Namborru (tujuh dewi nenek moyang Suku Batak). Apabila suku Batak akan melakukan upacara di sekitar danau mak mereka harus berdoa dan meminta izin Namborru terlebih dahulu.

Pulau Samosir adalah pulau yang unik karena merupakan pulau vulkanik di tengah Danau Toba. Ketinggiannya 1.000 meter di atas permukaan laut. Meskipun telah menjadi tempat tujuan wisata sejak lama, Samosir merupakan keindahan alam yang belum terjamah. Di tengah Pulau Samosir ini masih ada lagi dua danau indah yang diberi nama Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang. Daerah sekitar Danau Toba memiliki hutan-hutan pinus yang tertata asri. Di pinggiran Danau Toba terdapat beberapa air terjun yang sangat mempesona. Di sekitar Danau Toba juga akan Anda dapati tempat pemandian air belarang.

Di Pulau Samosir Anda juga dapat menemukan pegunungan berkabut, air terjun yang jernih untuk berenang, dan masyarakat peladang. Keramahan masyarakat Batak pun akan memikat Anda karena kemanapun Anda pergi maka dengan segera dapat menemukan teman baru.

Di Kota Parapat yang merupakan semenanjung yang menonjol ke danau Anda dapat Anda nikmati pemandangan spektakuler Danau Toba. Parapat dihuni masyarakat Batak Toba dan Batak Simalungan yang dikenal memiliki sifat ceria dan mudah bergaul, terkenal pula senang mendendangkan lagu bertema cinta yang riang namun penuh perasaan.

 

Aktivitas

Kuliner

Di Danau Toba tidak ada lokasi tempat makan khusus. Warung makan khas Sumatera Utara adalah Lapo namun makanan yang disajikan di sini dominan tidak halal sehingga Anda yang Muslim disarankan mencarinya di warung nasi padang dan makanan khas Jawa yang buka pada malam hari.

 

Berbelanja

Di Parapat Anda dapat membeli cenderamata berupa kaos dan aksesoris seperti kalendar Batak kuno dengan tulisan asli Batak, gitar Batak dari kayu dan beragam souvenir unik lainnya. Ada juga pasar tradisional yang digelar dua kali seminggu.

Jika Anda ingin membeli oleh-oleh unik bahkan antik cobalah berbelanja di Samosir. Kunjungi juga Jangga (desa tradisional) jika Anda tertarik untuk membeli kain ulos yang terkenal dengan motif dan tenunannya yang halus, Anda bahkan dapat melihat langsung cara menenun kain ulos. Kain ini didominasi warna merah, hitam dan putih yang biasanya ditenun dengan benang berwarna emas dan perak. Kain ulos beragam jenis, diantaranya: bintang maratur, ragiidup, sibolang, ragihotang, mangiring dan sadum.

 

Kegiatan

Kini Danau Toba menjadi salah satu tujuan wisata terbaik di Indonesia. Tempat dimana Anda dapat melakukan berbagai macam kegiatan untuk menikmati keindahan alam seperti mendaki gunung, berenang, atau berperahu layar. Udaranya bersih dan sejuk harmonis dengan suasana santai masyarakatnya yang ramah.

Banyak wisatawan lebih memilih tinggal di Pulau Samosir di tengah danau. Sebagai tempat tinggal asli masyarakat Batak Toba, Pulau Samosir memiliki bekas peninggalan zaman purbakala di antaranya ialah kuburan batu dan desa-desa tradisional. Di pulau ini Anda dapat menemukan kebudayaan Toba yang unik dan kuno. Amati juga arsitektur tradisional rumah Batak Toba yang majemuk. Keindahan alam Pulau Samosir mengartikan bahwa pulau ini adalah tempat yang cocok untuk dikunjungi dan menghindari kepenatan rutinitas. Samosir mudah dijangkau oleh kapal ferri dari Parapat. Di Tomok juga terdapat Makam Raja Sidabutar, yang usianya sudah 500 tahun. Juga terdapat Patung Sigale-Gale yang bisa menari.

Jika Anda merasa bersemangat di Parapat ada banyak fasilitas untuk berenang, bermain ski air, mengendarai motor boat, menaiki kano, memancing dan bermain golf. Dari Parapat Anda dapat berjalan-jalan santai di bukit Sungai Naborsahon dimana Anda akan melihat bunga bugenvil, pointetties, honey suckle yang spektakuler berbunga sepanjang tahun. Banyak pengunjung yang datang menghabiskan waktu di danau dengan berenang di air yang menyegarkan atau menyewa perahu layar mengelilingi danau yang besar tersebut. Tidak perlu khawatir tersengat sinar matahari karena iklim di sini sejuk dan kering dengan pemandangan danau yang indah, tempat ini adalah tempat yang ideal untuk bersantai. Sambil melihat Matahari terbenam di Danau Toba adalah cara yang sempurna untuk bersantai dan menghabuskan waktu bersama orang yang Anda sayangi.Di Samosir, Anda juga dapat berjalan-jalanlah ke pedalaman dan menjelajahi dua danau yang lebih kecil  yaitu Danau Sididhoni dan Aek Natonang.  Jika Anda masih belum merasa puas dengan suasana di Samosir, jelajahi pedalaman dengan trekking ke dataran tinggi. Sebaiknya tanya hotel atau masyarakat setempat tentang rutenya karena jalannya terkadang berlumpur dan licin tergantung cuaca. 

Jika Anda tertarik dengan sejarah maka kunjungi komplek pemakaman Raja Sidabutar dimana dapat melihat peninggalan budaya megalit yang unik. Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang kehidupan dan masyarakat Batak, kunjungilah desa tradisional Jangga penghasil kain ulos yang berjarak sekitar 24 km dari Parapat. Di tepi Danau Toba juga terlihat Wisma Soekarno, tempat Presiden pertama Indonesia diasingkan, dengan desain bangunan yang dicat warna putih nan megah.